Make your own free website on Tripod.com
BULETIN MILIS PERKUTUT MANIA
EDISI BULAN OKTOBER 1999


From: saiffulsam@hotmail.com

Subject: [perkutut mania] Trend suara perkutut

salam buat semua rakan..

Bagaimana trend suara perkutut di Indonesia?

Jalan 6 atau 5?

Adakah sudah berjaya di ternak perkutut bersuara metal nan ayu?

sekian saja, terima kasih

-sam (Malaysia)
 
 

Respons dari :

From: okto@bigfoot.com

Subject: [perkutut mania] Re: Trend suara perkutut

Salam buat rekan semua,

Sebenarnya tidak ada "trend" karena "trend" selalu berubah seperti mode, misalnya pada musik, ada kalanya sedang trend musik reggae, lalu tahun depan trend musik ballad rock dan seterusnya.

Yang dimaksud di sini sebenarnya adalah "kualitas" tuntutan yang harus dicapai oleh perkutut yang dilombakan untuk menjadi juara terutama pada tingkat nasional yang mutunya rata-rata sudah sedemikian tinggi. Jadi semacam standar yang bertambah/lebih tinggi.

Misalnya dulu waktu awal zaman perkutut bangkok, perkutut jalan 5 dengan tengah yang agak rapat, depan yang biasa dan ujung yang biasa saja sudah bisa menjadi juara, kemudian berkembang lagi, yang menjadi juara dengan kualitas seperti tadi tetapi suara tengahnya tidak rapat, selanjutnya lagi suara depannya lebih panjang dan selanjutnya ditambah suara ujungnya yang lebih panjang. Jadi dari tahun ke tahun, tuntutan mutu selalu meningkat.

Misalnya sekarang, Susi Susanti dengan jalan, 5-6, depan panjang, tengah ayu dan ujung panjang, latar dan irama juga bagus serta stabil. Masih merupakan kualitas yang tinggi pada saat ini, buktinya selain ada yang menawar dengan harga 750 juta rupiah, bahkan konon ada yang tawar 2 milyar rupiah.

Nah, Susi Susanti saat ini pun masih bisa menjadi juara di lomba tingkat nasional jika kondisinya masih bagus, sehingga bila ia gacor (manggung) selama minimal 8 kali tidak boleh ada penurunan mutu dan harus tahan bertanding selama 4 babak full dengan stamina yang baik.

Yang ingin saya katakan di sini, adalah Syarat utama dari perkutut juara ada 2 yaitu :

1. Mutu suara yang istimewa

2. Kestabilan dan kondisi mental dan fisik yang prima.

Standar dasar untuk perkutut menurut P3SI sampai saat ini : step minimal 4 (engkel) walaupun pada lomba umumnya 5 (sari). Sedangkan kualitas tertinggi yang sudah mulai dapat dicapai dan sedang dijadikan target kualitas tertinggi adalah step 7 (double plus), depan panjang, tengah minimal semi ayu, dan ujung panjang, latar dan irama bagus (sering disebut mental nan ayu alias tengah banyak tapi jalannya satu-satu gemulai). Walaupun ada beberapa ekor perkutut yang sudah mendekati kualitas seperti itu, namun masih agak sulit menjadi juara nasional, karena faktor kestabilan dan kondisi yang harus prima setiap saat, sebab jika perawatan, kondisi, maupun cuaca yang agak kurang mendukung saja penurunan mutu kestabilan akan terjadi, akibatnya predikat juara tidak dapat dicapai.

Begitulah kira-kira kualitas tertinggi yang menjadi target ternak di Indonesia saat ini. Kualitas ideal lainnya : Step 5-6, tengah ayu, depan dan ujungnya panjang, latar dan irama bagus.

Salam,

Okto



 
 

From : sudiarto_ari@yahoo.com

salam kenal

halo kawan, perkenalkan nama saya Sudiarto, alamat di bandung, dan saya adalah pemula dalam hal burung perkutut, saya tahu perkutut sebulan yang lalu oleh kawan saya, dan di janjikan akan di beri sepasang (burungnya lagi dalam tarap penjodohan) saya sangat tertarik karna menurut teman saya hasilnya lumayan. Lalu saya siapkan Kandang dengan Ukuran L=40cm,T=100cm,P=100cm.
 
 

Respons dari :

From: saiffulsam@hotmail.com

Subject: [perkutut mania] Re: salam kenal
 
 

> salam kenal

salam kenal juga saya dr M'sia

> (burungnya lagi dalam tarap penjodohan) saya sangat tertarik karna menurut

>teman saya hasilnya lumayan. Lalu saya siapkan Kandang dengan

> Ukuran L=40cm,T=100cm,P=100cm.

Mengenai hasilnya rasanya tidak semudah disangka..harus banyak dipelajari.. Dan sekiranya saudara atau teman saudara memang ahli perkutut (mengetahui tentang perkutut) tidak menjadi masalah... Itulah sebabnya saya banyak bertanya melalui milis ini.....

Mengenai kandang saudara saya sendiri mempunyai 2 kandang ukuran T=0.9 meter, L=0.7 meter, P= 0.9 meter. Jadi memang kurang dari standard biasa digunakan oleh peternak. Bagi saya saiz tidak menentukan apa. Seperti rasa kata Bung Okto banyak faktor lain seperti makanan, persekitaran, indukan kita, gangguan(kucing), umur perkutut dll.

Saya sendiri baru (minggu lepas) mencuba mengahwinkan perkutut lokal(M'sia)dengan Bangkok terlebih dahulu. Dan dikandang lain saya mengahwinkan perkutut Bangkok dan Bangkok yang saling tidak kenal mengenali lewat seminggu ditambahkan jantannya muda dari betina.

Tujuan saya melakukan ini untuk melihat mana yang bertelur dahulu. Walaupun hasilnya rasanya tidak boleh dijadikan statistik untuk semua tetapi saya harus mencuba. Tidak cuba tidak tahu bukan??

Jadi tidak salah saudara mencuba dengan ukuran kandang itu, mungkin berjaya.. siapa tau...????. Sekiranya tidak berjaya mungkin bukan rezeki saudara lagi...

Rasanya Bung Okto, Bung Rudy dan Rakan lain mula-mula pun mencuba-cuba, betul tak????... Akhirnya mereka berjaya....

sekian saja...mana yang tak betul itu sila dibetulkan...

sekian saja. terima kasih

-sam
 
 


From: saiffulsam@hotmail.com

Subject: [perkutut mania] PENGALAMAN BUNG

Salam Meow kung;

Bolehkah Bung Rudy, Bung Okto dan rekan ceritakan pengalaman Bung semua mengenai

i. Menyertai konkurs

ii. Mula beternak

iii. Burung Juara Bung semua

Rasanya sernok jika mendengar kita semua bercerita yer!!!

-sam
 
 

Respons dari :

From: "Rudy Tanureja" <tanureja@indo.net.id>

Subject: [perkutut mania] Re: PENGALAMAN BUNG
 
 

Salam bung Sam (boleh saya memanggil bung seperti ini supaya lebih akrab),

Baiklah kalau begitu.

| i. Menyertai konkurs

Saya sering menghadiri konkurs yang berlokasi di kota Surabaya khususnya, tapi sampai sekarang baru satu kali mengikuti konkurs di Yogyakarta. Memang saat itu belum mau terjun karena saya memang belum memiliki perkutut hasil ternak sendiri yang bagus. Buat beli dari peternak lain nggak sanggup biayanya. Tapi mulai Oktober kayaknya saya sudah mau ikut terjun ke konkurs piyik karena piyik-piyik saya akhir-akhir ini menurut saya sudah cukup bagus untuk diikutkan ke konkurs. Jadi sudah berani tampil, mudah-mudahan saja dapat nomor. Nanti saya kabari kalau dapat juara ya 8-).
 
 

| ii. Mula beternak

Awal beternak saya menggunakan kandang ukuran lebar 60 cm, panjang 90 cm, dan tinggi 90 cm. Sudah lebih dari empat bulan menunggu, tapi nampaknya tidak ada seekorpun yang bertelur. Frustrasi juga, karena malam-malam harus bergadang karena kandang sering dikunjungi oleh kucing. Setelah kucing sudah hilang dari peredaran karena saya tangkap dan buang ke tempat lain, eh tetap juga nggak ada hasilnya. Akhirnya saya nekad buat kandang yang lebih besar ukuran lebar 60cm - 70 cm, panjang 1,8 meter dan tinggi 1,8 meter. Setelah kandang jadi dan perkutut-perkutut tersebut saya pindahkan, seminggu kemudian hampir 80% perkutut saya bertelur. Mungkin karena lokasi lebih aman dan tenang serta lebih leluasa bagi perkutut (di lantai dua yang saya dek khusus untuk ternak perkutut). Sampai dengan saat ini minimal setiap bulan saya bisa menghasilkan piyik 20 ekor lebih. Belum maksimum karena masih dierami oleh induknya sendiri. Biasanya piyik perkutut umur 7 hari saya baru pindah, dipasangkan cincin dan selanjutnya diloloh oleh puter. Cara ini masih saya pakai karena nggak mudah menggunakan baby sitter karena harus disesuaikan dengan waktu bertelur perkutut baby sitter.

Kalau orang bilang sekolah perkutut mahal, mungkin itulah yang saya alami karena kebodohan saya sendiri. Sewaktu masih awal beternak saya sudah bolak balik ditipu oleh peternak. Memang salah saya sendiri karena belum memiliki bekal pengetahuan seni suara perkutut yang cukup waktu itu. Nominal yang ketipu bisa 10 jutaan. Jangan seperti saya yah, karena saat itu emosi yang lebih berperan daripada nalar. Rasanya nggak bisa tidur sebelum bisa mendapatkan perkutut tersebut, padahal kualitasnya amburadul. Lucu ya, tapi itulah yang terjadi. Ketika hasil crossingnya meleset, saya konsultasikan lagi, saya disuruh menunggu lagi. Yah namanya crossingnya nggak tepat ditunggu sampai kapanpun yang keluar tetap saja kualitasnya amburadul.

Tapi akhirnya saya berkenalan dengan bung Okto, Ketong di Jakarta dan bung Kevin di Surabaya. Khususnya bung Kevin, DK dan DM, karena saya kenal dekat kayak saudara dengan keponakannya. Sudah kurang lebih 12 pasang saya ambil dari dia dan hasilnya yang paling memuaskan buat saya. Harganya juga sangat rasional. Bukannya promosi, tapi memang begitu keadaannya. Bahkan piyik-piyik dari saya dibelinya kembali dan saya tukar kembali dengan indukan baru.

Semangat saya beternak timbul semakin besar setelah bertemu mereka. Jadi kehadiran bung Okto sangat besar manfaatnya bagi milis ini. Jangan ragu-ragu memanfaatkan beliau ya. 8-). Nggak gampang lho mendapatkan info dari mereka yang benar-benar mau membantu.
 
 

| iii. Burung Juara Bung semua

Seperti di atas saat ini saya belum aktif mengikuti konkurs, mungkin mulai Oktober ini sudah berani tampil dan mudah-mudahan sudah ada yang nyantol di juara. Doakan ya.

Salam,

Rudy
 
 

Respons dari:

From: okto@bigfoot.com

Salam kung,

>Bolehkah Bung Rudy, Bung Okto dan rekan ceritakan pengalaman Bung semua

>mengenai

>i. Menyertai konkurs

Mengenai pengalaman mengikuti konkurs, sebenarnya baru sekali saya menyertakan perkutut saya ke konkurs yaitu induk dari salah satu materi inti, belum dapat nomor karena stamina si perkutut yang hanya tampil 60%, karena sudah sekitar 7 bulan di kandang ternak dan selama itu pula dia tidak latihan manggung. Sehingga nilai tertinggi yang dicapai hanya pada babak pertama yaitu : 8,5 - 9 - 8,5 - 8,5 - 8, sedangkan pada babak ke-2,3 dan terutama ke-4, hanya memutari sangkar dan bunyi 1-2 kali setiap babaknya (karena sudah lama tidak dijemur sehingga kepanasan). Disini jelas, kalau punya perkutut untuk lomba, sebaiknya jangan dikawinkan, karena akan mengurangi stamina/performance, sebab dalam kandang ternak, perkutut akan lebih jarang manggung sehingga seperti atlet atau penyanyi yang kurang latihan.

Kalau menonton konkurs sudah beberapa kali. Menonton konkurs di Jakarta, cukup menyenangkan karena penontonnya lebih tertib dan tidak banyak bersuara, sehingga kita bisa dengan tenang mendengarkan suara para perkutut.

Untuk selanjutnya, untuk mengikut konkurs, akan saya gunakan perkutut hasil ternakan sendiri yang mutunya sudah ada yang masuk kelas lomba. Tapi kelas yang akan saya ikut yaitu kelas dewasa, sebab pada kelas piyik, terus terang saya agak malas, karena banyaknya peserta yang tidak fair yaitu dengan menyertakan perkutut dewasa.
 
 

>ii. Mula beternak

Mula beternak saya termasuk orang yang paling beruntung, karena sejak awal beternak, saya dibimbing dan belajar langsung dari teman baik saya sejak kecil yang juga tetangga saya yaitu Bp.Ketong, salah seorang pakar perkutut Jakarta.

Saya mengunakan kandang aluminium berukuran kecil 60x60x60 cm di pekarangan yang sempit yang setiap sorenya pasti macet. Ukuran kandang memang tidak terlalu berpengaruh pada perkutut, bahkan yang terakhir, pasangan baru saya yang bermaterikan perkutut ternakan sendiri, baru 2-3 minggu disatukan sudah bertelur dan sekarang sedang mengeram.

Kalau bicara soal kandang ideal, tentunya ukuran idealnya dibandingkan dengan lahan yang ada, jika lahan sempit, kandang idealnya adalah yang kecil, tetapi jika punya lahan luas, idealnya mengunakan kandang besar (kandang dimana orang bisa masuk ke dalamnya). Jadi idealnya tergantung kondisi luas, seperti ukuran celana, yang ideal adalah yang sesuai dengan ukuran orangnya.

Dalam beternak terutama perkutut yang bersuara baik, umumnya lebih rewel daripada perkutut yang bersuara kurang baik. Sering ditemukan berbagai masalah. Tapi itulah beternak perkutut unggul, harus rajin dan tetap selalu bermental baja, dan mempelajari serta mempunyai inovasi baru, sehingga perkutut yang dihasilkan bisa maksimal.

Salam,

Okto
 
 



 
 

 From: Perkutut <perkutut@beer.com>

Subject: [perkutut mania] Induk meninggalkan telur

Salam Klau Kwuek Kwuek Kwuek Kwuek Kuuoongggggggggggg.....

Halo rekan-rekan,

Minggu Lalu perkutut saya sudah bertelur 2 biji. Selama 1 minggu itu induk betina sudah mengerami telurnya. Kemarin, tiba-tiba meninggalkan telurnya (tidak dierami lagi). Lalu saya ambil telur itu untuk dimasukkan di mesin penetas telur ayam.

Pertanyaan saya :

1. Apa kemungkinan penyebab induk meninggalkan telur ? padahal suasana di sekitar kandang sudah cukup tenang, meskipun dekat dengan lalu lalang orang (sengaja, supaya perkutut tidak kuper)

2. Telur yang sudah dierami 1 minggu tersebut masih tampak bening(jernih). Biasanya sampai dierami berapa lama telur akan tampak hitam (dalamnya) sebagai tanda kalau telur tersebut berisi anak burung ?
 
 

3. Pernahkan rekan-rekan punya pengalaman menetaskan perkutut dengan mesin penetas ? Bagaimana cara melolohnya ? berapa jam sekali ? berapa banyak ?

Sekian dulu pertanyaan saya, mungkin rekan-rekan sekalian (terutama bung Rudy dan bung Okto) ada yang mengetahui kemungkinan apa yang terjadi dengan perkutut saya.

Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada bung Rudy dan bung Okto, yang dengan penuh semangat mengasuh mail-list perkutut mania ini. Semoga semakin banyak yang bergabung dengan maillist kita.

Teddy.
 
 

Respons :

From: okto@bigfoot.com

Subject: [perkutut mania] Re: Induk meninggalkan telur
 
 

Salam kung,

>1. Apa kemungkinan penyebab induk meninggalkan telur ? padahal suasana

>di sekitar kandang sudah cukup tenang, meskipun dekat dengan lalu lalang

>orang (sengaja, supaya perkutut tidak kuper)

Penyebab induk tidak mau mengeram cukup banyak penyebabnya, tetapi secara garis besar terdiri dari 2 sebab, yaitu sebab dari luar dan sebab dari diri si perkutut sendiri.

Sebab yang paling banyak adalah :

1. Karena si induk mau kawin lagi, sehingga tidak mau / kosentrasi mengerami telur.

2. Karena kaget (mungkin ada kecoa atau cecak yang mendekati sarang).
 
 

>2. Telur yang sudah dierami 1 minggu tersebut masih tampak

>bening(jernih). Biasanya sampai dierami berapa lama telur akan tampak

>hitam (dalamnya) sebagai tanda kalau telur tersebut berisi anak burung ?

Telur yang subur setelah sehari dierami sudah tampak serat-serat pembuluh darah, sedangkan sekitar 5-7 hari telurnya sudah tampak hitam pada bagian dalam.
 
 

>3. Pernahkan rekan-rekan punya pengalaman menetaskan perkutut dengan

>mesin penetas ? Bagaimana cara melolohnya ? berapa jam sekali ? berapa

>banyak ?

Belum pernah, tetapi dari pengalaman orang yang pernah, diloloh dengan bubur bayi yang diencerkan, 3 jam sekali diberi makan, ukuran banyaknya sampai si bayi kenyang.

Mengenai cara meloloh, Bung Rudy sudah cukup pengalaman meloloh piyik berusia 1 minggu ke atas, mungkin Bung Rudy juga tahu caranya meloloh bayi perkutut dibawah usia seminggu.

Salam,

Okto
 
 

Respons :

From: "Rudy Tanureja" <tanureja@indo.net.id>

Subject: [perkutut mania] Re: Induk meninggalkan telur
 
 

Salam Klau ku klak ku klak klak klak Kooong,

> Pertanyaan saya :

> 1. Apa kemungkinan penyebab induk meninggalkan telur ? padahal suasana

> di sekitar kandang sudah cukup tenang, meskipun dekat dengan lalu lalang

> orang (sengaja, supaya perkutut tidak kuper)

Kalau dari apa yang saya alami juga selama beternak, induk meninggalkan telur ada beberapa kemungkinan :

1. Induk perkutut memiliki naluri untuk mengetahui telurnya bakal jadi atau tidak. Ada beberapa perkutut saya yang suka begitu tetapi hanya ditinggal (sampai bisa 1/2 hari) kemudian dierami lagi dan pada saat menjelang menetas terlihat induknya intensif mengerami tidak seperti hari-hari sebelumnya. Jadi kayaknya induk perkutut mengetahui perkembangan telurnya yang dierami.

2. Induk perkutut masih dalam taraf belajar mengerami. Ini memang tidak terjadi pada semua perkutut.

3. Kondisi / Mood perkutut pada saat mengerami tersebut.

Tapi pada umumnya kejadian ini bisa terjadi pada satu masa peneluran tetapi untuk periode berikutnya akan berjalan normal kembali. Saya sendiri kadangkala dihadapkan dengan situasi seperti bung yang alami sekarang. Dulu sampai pernah ada enam telur di sarang burung tersebut dan nggak dierami oleh perkutut yang bersangkutan. Setelah secara rutin saya monitor, sekarang sudah tidak terjadi lagi.

> 2. Telur yang sudah dierami 1 minggu tersebut masih tampak

> bening(jernih). Biasanya sampai dierami berapa lama telur akan tampak

> hitam (dalamnya) sebagai tanda kalau telur tersebut berisi anak burung ?

Kelihatannya telurnya nggak jadi. Apa betul sudah 1 minggu ? Coba gunakan senter dan sorot telur tersebut dengan posisi telur diatas (tempelkan pada kacanya dengan posisi ujung telur menempel pada kaca. Dipegangi lho, kalau tidak bisa jatuh dan pecah). Apabila terlihat ada urat (seperti benang) berwarna merah, pertanda ada kehidupan pada telur tersebut dan telur tersebut berusia kurang dari 1 minggu. Setelah itu biasanya akan terlihat benda hitam bergerak (embrio). Setelah melewati 1 minggu telur berwarna putih susu dan tidak dapat lagi / sulit dilihat dengan senter. Kalau nggak ada tanda seperti di atas maka kemungkinan besar tidak ada bibitnya.

Sebenarnya tanda perkutut sudah bertelur atau tidak adalah dengan melihat perkutut tersebut di malam hari apakah sudah berada di sarang dan sedang mengerami. Kalau malam tidak mengerami meskipun siang berada disarang, itu tidak berarti perkutut tersebut sudah bertelur. Jadi usia telur perkutut bung mungkin bisa kurang dari 1 minggu.

> 3. Pernahkan rekan-rekan punya pengalaman menetaskan perkutut dengan

> mesin penetas ? Bagaimana cara melolohnya ? berapa jam sekali ? berapa

> banyak ?

Saya belum pernah tapi saya dengar piyik perkutut tersebut dilolohi dengan kroto segar setiap 2 jam masing-masing 1 butir. Usia paling rawan adalah usia 1 - 2 hari. Tapi bung tetap membutuhkan puter untuk melanjutkan meloloh piyik tersebut. Puter sendiri juga harus dalam keadaan mengerami telur (paling baik setelah lewat 1 minggu). Susah untuk melolohi piyik lho. Kalau sudah berusia 2 minggu saya sudah terbiasa tapi kalau lebih kecil lagi wah nggak kebayang susahnya (memegang, membuka mulut dan memasukkan makanan ke mulut piyik tersebut).

Semoga membantu, mungkin teman-teman lain bisa membantu.

Rudy Tanureja
 
 

Respons :

From: saiffulsam@hotmail.com

Subject: [perkutut mania] Re: Induk meninggalkan telur

salam rakan semua;

> > 3. Pernahkan rekan-rekan punya pengalaman menetaskan perkutut dengan

> > mesin penetas ? Bagaimana cara melolohnya ? berapa jam sekali ?

Saya sendiri tidak pernah mencuba...tetapi sekiranya Bung sudah tiada cara lain, Bung boleh gunakan cara di bawah dan semoga succes ...(tiada jaminan dari saya)...

Bung, anak yang baru menetas tidak akan makan dan minum selama lebih kurang 24 jam. Selepas itu Bung boleh membancuh dedak ayam paling halus(tanpa jagung), dengan air suam (jangan terlalu cair), lalu diberi minum airnya dahulu. Ini bertujuan membasahkan saluran makanan piyik tersebut. Jangan terlalu memaksa. Selang dua jam kemudian, piyik diberi minum air lagi + sedikit makanan sehingga ia mahu minum dan makan..

Sekiranya piyik tersebut minum + makan dengan aman lalu beri sedikit lagi, selang 4 jam. Perlu diingati mulutnya terlalu lembut, lalu jangan dipaksa dengan keras. Kalau boleh gunakan picagari yang paling kecil (tanpa jarum)lalu dimasukkan ke dalam mulut piyik lalu dimasukkan makanan dengan perlahan. Ini berterusan sehingga hari ke-5. Memang sulit kerana piyik tersebut terlalu kecil dan tidak boleh dipegang.

Seterusnya piyik berusia seminggu lebih sudah mudah untuk diberi makan. Gunakan dedak ayam juga dibancuh dengan air suam.

Semoga berjaya...

-sam




From: Eko Sulistyanto <ekosl@usa.net>

Subject: [perkutut mania] Perkutut L / P
 
 

Klaauuu ketek kuuungg, Tiiiing........

Saya senang sekali dengan adanya situs yang memuat masalah Perkutut, dan saya selalu monitor di Situs ini. Namun selama ini saya belum berani mengomentari hal-hal tentang Perkutut, karena pengetahuan saya tentang Perkutut masih minim sekali.

Saya mengucapkan banyak terima kasih buat Bung Okto (Perkutut Mall-nya Bagus) dan Bung Rudi serta rekan-rakan lainya yang telah bergabung di Situs ini. Karena tulisan-tulisannya di situs ini telah sangat membantu untuk menambah pengetahuan saya tentang ilmu Ke-Perkutut-an.

Namun kegemaran saya ini hanya baru sebatas memelihara dan menikmati suaranya saja dan belum berniat untuk sampai bisa berternak (karena keterbatasan lahan yang saya miliki).

Pada kesempatan ini juga saya ingin bertanya :

1. Bagaimanakah caranya membuat agar Perkutut cepat jinak dan rajin berbunyi, soalnya saya punya satu Perkutut yang sudah cukup lama saya pelihara kok masih tidak jinak seperti yang lainnya ? Padahal semuanya saya perlakukan sama. Mohon penjelasannya.

2. Bagaimanakah kita tahu perkutut yang kita pelihara itu laki-laki atau perempuan ? Apakah kalau bunyinya jarang dan hanya sekali-sekali (tidak kontinyu) bisa dipastikan burung itu perempuan ? (hanya sesekali berbunyi Huur ketetete kung, hur kete kung terus berhenti beberapa saat kemudian berbunyi lagi).

Mohon penjelasannya mungkin ada yang bisa membantu.

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam,..

Eko
 
 

Respons :

From: "Rudy Tanureja" <tanureja@indo.net.id>

Subject: [perkutut mania] Re: Perkutut L / P

Klau ku ku ku Kung kuk kuk kuk .... buk (jatuh sangking ngototnya bunyi),

> Saya senang sekali dengan adanya situs yang memuat masalah Perkutut, dan

> saya selalu monitor di Situs ini. Namun selama ini saya belum berani

> mengomentari hal-hal tentang Perkutut, karena pengetahuan saya tentang

> Perkutut masih minim sekali.

Jangan khawatir saya sendiri masih pemula. Bung Okto tahu mengenai saya.
 
 

> Namun kegemaran saya ini hanya baru sebatas memelihara dan menikmati

> suaranya saja dan belum berniat untuk sampai bisa berternak (karena

> keterbatasan lahan yang saya miliki).

Beternak perkutut tidak tergantung pada tempat sebenarnya. Banyak yang saya temui tetap bisa beternak perkutut hanya dengan sangkar petak (bukan kandang) yang ditempelkan di dinding.

Beternak memberikan kenikmatan tersendiri lho. Itu yang saya rasakan.

Pertama belajar bagaimana menjodohkan perkutut, merawat agar cepat berahi dan bertelur, menunggu saat-saat sang piyik lahir, menunggu saat-saat sang piyik mengeluarkan suara pertamanya (suara angin) sampai dengan menunggu suara perkutut asli, dan menganalisa apakah hasil crossing yang telah dilakukan telah sesuai dengan yang diharapkan. Ini memakan waktu sampai berbulan-bulan. Bayangkan apa yang bisa memberikan kenikmatan selama berbulan-bulan he-he-he. Dan satu lagi kesabaran kita di latih, karena semuanya bisa dibikin instan kecuali produksinya, tapi masa bertelur, mengerami, keluar suara dll memang kita diharuskan menunggu.
 
 

> 1. Bagaimanakah caranya membuat agar Perkutut cepat jinak dan rajin

> berbunyi, soalnya saya punya satu Perkutut yang sudah cukup lama saya

> pelihara kok masih tidak jinak seperti yang lainnya ? Padahal semuanya

> saya perlakukan sama.

Kalau seperti yang bung gambarkan kayaknya karakter si perkutut yang bersangkutan. Sering-sering saja dimandikan dan dipegang, kayaknya memang harus diperlakukan khusus. Saya punya dua perkutut yang meskipun suaranya jelek tapi begitu saya hampiri langsung bekur dan kalau saya masukkan tangan langsung dipatuk lho. Mentalnya boleh juga sayang suaranya ya.

> 2. Bagaimanakah kita tahu perkutut yang kita pelihara itu laki-laki atau

> perempuan ? Apakah kalau bunyinya jarang dan hanya sekali-sekali (tidak

> kontinyu) bisa dipastikan burung itu perempuan ? (hanya sesekali berbunyi

> Huur ketetete kung, hur kete kung terus berhenti beberapa saat kemudian

> berbunyi lagi).

Untuk mengetahui burung jantan atau betina tidak dapat ditentukan dari rajin tidaknya perkutut tersebut bunyi. Ini menyangkut stamina dan mood perkutut yang bersangkutan.

Yang sering digunakan untuk menentukan apakah perkutut jantan atau betina

meskipun akurasinya juga masih dipertanyakan adalah :

1. Melihat warna putih pada atas paruh perkutut. Yang jantan biasanya warna putihnya sampai ke pelipis (atau istilah lain ?) perkutut sedangkan yang betina tidak.

2. Supit pada maaf dubur perkutut. Apabila salah satu supit terasa lunak kalau disentuh dibandingkan yang satunya maka perkutut tersebut diperkirakan betina.

3. Perkutut betina biasanya memiliki postur tubuh lebih kecil dari yang jantan. Ini memang sulit membedakannya tapi kalau masih sama-sama piyik seteluran, yang kecil biasanya betina.

4. Perkutut betina umumnya memiliki suara dengan volume kecil / kristal.

Ini merupakan generalisasi tapi banyak juga ditemui adanya deviasi dari kenyataan yang ada. Perkutut juara juga tidak sedikit yang berjenis kelamin betina. Tapi di kalangan peternak biasanya akan mengatakan sulit untuk mencarikan jodoh untuk perkutut juara yang bersuara kristal tembus karena betina yang bervolume besar yang cocok nggak mudah untuk diperoleh dan tentunya harganya mahal. Dengan demikian bisa jadi perkutut betina bervolume besar sulit diperoleh oleh kalangan peternak dan apabila mereka memilikinya pasti tidak akan dijual dengan mudah atau dijual dengan harga tinggi.

Salam,

Rudy Tanureja
 
 

Respons :

From : okto@bigfoot.com

Salam kung,

>Pada kesempatan ini juga saya ingin bertanya :

>1. Bagaimanakah caranya membuat agar Perkutut cepat jinak dan rajin

>berbunyi, soalnya saya punya satu Perkutut yang sudah cukup lama saya

>pelihara kok masih tidak jinak seperti yang lainnya ? Padahal semuanya saya

>perlakukan sama. Mohon penjelasannya.

Agar perkutut jadi jinak, harus ditaruh ditempat yang dekat dengan kita / lalu lalang. Seminggu sekali pada saat cuaca cerah, mandikan perkutut dan sebelum dimandikan, boleh diberi jamu-jamuan (bisa dibeli di pasar burung), boleh juga diberikan beberapa butir kacang hijau lunak.

Dengan perlakuan seperti itu paling lambat sebulan, si perkutut sudah jinak (tidak takut dengan manusia). Ada pula yang supaya jinak, perkututnya dibelai-belai setiap pagi/sore hari.

Mengenai cepat atau tidaknya seekor perkutut jinak tergantung juga dari kepribadian perkutut yang bersangkutan.
 
 

>2. Bagaimanakah kita tahu perkutut yang kita pelihara itu laki-laki atau

>perempuan ? Apakah kalau bunyinya jarang dan hanya sekali-sekali (tidak

>kontinyu) bisa dipastikan burung itu perempuan ? (hanya sesekali berbunyi Huur

>ketetete kung, hur kete kung terus berhenti beberapa saat kemudian berbunyi

>lagi).

Jarang atau seringnya seekor perkutut berbunyi tidak bisa dijadikan patokan apakah perkutut itu jantan atau betina. Sebab perkutut betina yang baik adalah perkutut betina yang dapat juga manggung, sehingga diharapkan keturunannya baik betina maupun jantan juga rajin berbunyi.

Salam,

Okto